Kesadaran Burung: Jiwa Merdeka yang Menembus Batas Dunia
JAKARTA, Bongkarfaktanews --Kesadaran burung adalah kesadaran yang diperoleh seorang penempuh jalan ruhani (salik) setelah melewati berbagai tahap perjalanan batin, melampaui kedudukan (maqamat) menuju kesadaran Tauhid.
Bagaikan seekor burung, seorang salik yang mencapai tahap ini memandang dunia hanya sebagai tempat hinggap sementara—tempat untuk berpijak, beristirahat, makan, dan melanjutkan perjalanan. Dunia bukan lagi tujuan akhir.
Kecintaan berlebihan kepada dunia (hubb ad-dunya) perlahan tersingkap, seperti matahari yang menerobos gumpalan awan hitam. Dunia yang dahulu begitu memikat kini berada di bawah pandangannya.
Pada tahap ini, sang salik mulai merasakan getaran cinta (hubb) seorang pecinta (muhibb) kepada Kekasih (Mahbub). Pandangannya diarahkan hanya kepada-Nya, sementara segala sesuatu selain-Nya (ghair) perlahan kehilangan daya tarik.
Burung dan Makna Kebebasan
Kesadaran burung adalah kesadaran untuk melihat dunia sebagai tempat singgah: untuk berpijak, mencari makan, beristirahat, bermadu kasih, tidur, dan bersarang—bukan untuk diperbudak olehnya.
Ia adalah kesadaran makhluk yang memandang kehidupan dari tempat yang lebih tinggi. Kesadaran untuk memberi tanpa selalu menuntut balasan. Kesadaran untuk melimpahkan sesuatu dari atas tanpa terus-menerus menengadah kepada yang berada di bawah.
Inilah kesadaran seorang salik yang berdiri di ambang batas antara alam kasatmata dan alam tak kasatmata.
Angkasa menjadi simbol kebebasan yang didambakan. Bahkan ketika sayap telah patah dan tubuh terhempas menjadi bangkai di muka bumi, semangat untuk merdeka tidak pernah benar-benar mati.
Mereka yang memiliki kesadaran burung adalah gambaran jiwa merdeka—jiwa yang tidak rela bertekuk lutut kepada sesama, bahkan ketika di hadapannya ditawarkan sangkar emas, kemewahan, dan limpahan makanan.
Tidak Semua Burung Mampu Terbang Tinggi
Namun, kesadaran burung pun memiliki tingkatan. Setiap jenis burung menjadi simbol perjalanan dan kedudukan (maqamat) seorang salik.
Kesadaran burung gagak menggambarkan kesadaran yang belum mampu terbang tinggi dan jauh. Ia masih terjebak dalam lingkaran angan-angan (al-wahm), sibuk memunguti serpihan dunia dan mudah lupa diri ketika mendapat pujian.
Kesadaran burung merak menggambarkan jiwa yang gemar membusungkan dada. Keindahan bulunya dijadikan alasan untuk merasa paling baik, paling indah, dan paling unggul dibanding yang lain.
Kesadaran burung bangau menggambarkan mereka yang pandai bertutur kata, tetapi mudah terjebak dalam pujian terhadap diri sendiri dan memanfaatkan orang-orang yang percaya kepada ucapannya.
Kesadaran burung beo menggambarkan mereka yang bangga mampu mengucapkan kata-kata orang bijak, tetapi belum tentu memahami makna yang terkandung di balik kata-kata tersebut.
Kesadaran burung pipit menggambarkan mereka yang merasa kuat karena hidup berkelompok, lalu menganggap kelompoknya sebagai yang paling benar dan paling baik.
Kesadaran burung merpati menggambarkan mereka yang sebenarnya mampu terbang tinggi dan jauh, tetapi mudah terlena oleh kenyamanan hingga akhirnya memilih menjadi jinak dalam sangkar kemapanan.
Rajawali: Puncak Kesadaran Burung
Dan di antara semua gambaran itu, rajawali menjadi simbol kesadaran yang paling gagah dan perkasa.
Rajawali terbang tinggi dan jauh di tengah kesenyapan angkasa. Ia bersahabat dengan kesunyian dan keheningan. Sarangnya berada di tempat tinggi, di puncak tebing karang.
Ia tidak makan ketika tidak lapar. Tidak minum ketika tidak haus. Tidak hidup untuk menumpuk, tetapi hidup sesuai kebutuhan.
Dalam kesendiriannya, ia terus mengarahkan pandangan kepada Sang Pencipta.
Dan dari ketinggian itu, seolah terdengar pekik yang menggetarkan kesunyian:
HAQQ...
HAQQ...
HAQQ...!
Sebab pada akhirnya, kesadaran burung bukan sekadar tentang terbang.
Ia adalah tentang kebebasan jiwa—melepaskan diri dari keterikatan dunia, meninggalkan kesombongan, dan mengarahkan seluruh pandangan kepada Sang Kekasih.
Dikutip dari Suluk Abdul Jalil — Syekh Siti Jenar
By Admin H T
